Carut marut persoalan air di Sumatera
Utara khususnya di Kota Medan hingga saat ini tampaknya tidak juga dapat segera
teratasi secara baik dan benar, selain harga tarif air yang cukup tinggi alias “mahal”,
kualitas pelayanan air juga masih saja buruk. Berdasarkan fakta-fakta empiris dilapangan
bahwa banyak keluhan pelanggan, mulai dari persoalan air macet, bau, jorok, air
bercampur tanah bahkan di tempat-tempat tertentu air sering kali mati di rumah
pelanggan.
Banyak yang curiga bahkan
bertanya-tanya mengapa persoalan buruknya kualitas pelayanan PDAM Tirtanadi
tidak kunjung teratasi?, kemudian mengapa kinerja Dirut PDAM Tirtanadi saat ini
lebih buruk dari sebelumnya?. Pertanyaan seperti ini wajar saja muncul dari masyarakat
pelanggan ketika di saat yang sama selain harga tarif air mahal sementara
kualitas pelayanan dan kualitas air yang sampai kerumah pelanggan justru buruk
dan tidak memuaskan.
Dalam perkembangan sejarah manajemen
PDAM Tirtanadi satu dasawarsa ini tentu nilai rapotnya banyak yang merah,
meminjam istilah Padian Adi Siregar dalam sebuah kesempatan Diskusi Publik dengan thema "Kisruh PDAM Tirtandi dan Korupsi" menyebutkan bahwa “Kinerja Dirut Tirtanadi yang paling buruk dalam sejarah, ya Dirut yang sekarang ini”. Pernyataan
ini tentu bukan tidak beralasan, justru begitulah fakta dan keadaan
sesungguhnya, turunlah kelapangan bahwa keluhan para pelkanggan saat ini, selain
tarif air yang mahal kualitas pelayanan pun
memeng buruk.
Melihat kondisi serperti ini, sudah
sepantasnyalah PDAM Tirtanadi berbenah dan mengevaluasi diri. Sejatinya Gubernur
Sumatera Utara (Gubsu) mau mendengarkan keluh kesah masyarakat pelanggan air dan
segera mencari sosok pengganti Dirut ataupun Direksi yang berkualitas, harus mengerti dan mau memperbaiki pelayanan, jika tidak jangan harap
pelayanan akan baik, justru yang ada pelanggan akan terus di buat kecewa oleh
buruknya kinerja manajemen PDAM Tirtnadi. Semoga…!!!

Komentar
Posting Komentar