Langsung ke konten utama
Eksistensi Pemuda Muhammadiyah Sebagai Ortom dan OKP
Oleh: Eka Putra Zakran

“…Berikan kepadaku sepuluh orang pemuda, maka akan aku guncang dunia (Ir. Soekarno)”.

Stigma atau asumsi negatif tersebut tentu tidak selamanya benar, sebab pada dasarnya mereka yang bergabung atau bernaung di OKP notabene adalah para pemuda, tunas bangsa dan cikal bakal calon pemimpin masa depan. Bahkan, lebih dari itu mereka juga tentu ada yang unggul, ada yang biasa tapi juga tidak menutup kemungkinan mereka itu berkualitas secara konsep dan pemikiran untuk membangun karakter bangsa di negeri ini. Dengan demikian, dampaknya secara psikologis tentu bagi OKP yang berazas dan berbasiskan Islam. Sebut saja misalnya terhadap Pemuda Muhammadiyah dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, melihatnya tentu tidak boleh secara parsial (sempit atau sepotong-sepotong), melainkan justru harus gradual (luas dan secara totalitas) agar tidak merusak pada maksud dan tujuan di dirikannya instumen OKP di republic ini.
Seperti kata pepatah “jangan karena air setitik, rusak susu sebelanga”. Bila dilihat secara substansial, seluruh OKP di negeri ini bermaksud positif untuk membangun karakter anggotanya agar menjadi lebih baik dan berdaya guna. Jika pun ada OKP yang sesat atau menyimpang, maka hal tersebut sangat jelas telah sudah keluar dari konteks kebebasan berkumpul, bersyarikat dan mengeluarkan pendapat sebagaimana yang telah di amanatkan oleh UUD 1945. Tak dapat dipungkiri, bahwa memang di setiap OKP selalu saja ada oknum, anggota atau pimpinan tertentu yang menyalahgunakan kekuasaannya (abuse of power) untuk mencari keuntungan atau kepentingan pribadi, bahkan lebih ironisnya mereka menggrogoti organisasi tersebut kepada arah yang menyimpang sehingga secara perlahan organisasi tersebut telah rusak serta binasa. Oleh karenanya, bagi penggiat organisasi kepemudaan, khususnya Pemuda Muhammdiyah tentu saja pembubaran bukan solusi dan bukan sebagai pilihan terbaik. Akan tetapi, dengan suatu wadah organisasi itu segala tujuan akan dapat mudah tercapai.

Eksistensi Pemuda Muhammadiyah sebagai Ortom
Jika dilihat dari aspek historisnya, jauh sebelum Indonesia merdeka tepatnya pada tanggal 5 Mei 1932 atau bersamaan pula dengan 26 Dzulhijjah 1450, Pemuda Muhammdiyah didirikan sebagai langkah strategis yang dengan maksud dan tujuan menghimpun dan membina pemuda Islam untuk beramar ma’ruf nahi mungkar berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sementara dalam ruang lingkup usahanya dititik beratkan pada 3 (tiga) bidang yaitu; (1) Gerakan Dakwah sosial dan kemasyarakatan; (2) Gerakan Keilmuan; dan (3) Kewirausahaan.
Pemuda Muhammadiyah sebagai Organisai Otonom (Ortom) di Muhammadiyah, memiliki peran dan fungsi startegis sebagai, Pelopor, Pelangsung dan Penyempurna Amal Usaha Muhammadiyah di berbagai bidang. Oleh sebab itu, Pemuda Muhammadiyah dalam aspek gerakannya diharapkan dapat mentauladani pribadi Nabi Muhammad Rasulullah saw. Dalam aplikasi gerakannya, Pemuda Muhammadiyah tentu harus dinamis, kreatif dan innovatif agar  maksud dan tujuan tersebut dapat dilaksanakan. Selain itu, setiap kader harus menunjukkan dedikasi dan integritas moral yang tinggi, berakhlaqul karimah (akhlaq terpuji) antara lain; jujur dalam sikap dan perbuatan, cerdas dalam konsep dan pemikiran, terdepan dalam menyampaikan informasi dan dapat dipercaya dalam memegang teguh janji yang telah diikrarkan. Maka, sangat pantas jika KH. Ahmad Dahlan pernah berpesan “Jadilah kalian Dokter, jadilah kalian Insinyur dan jadilah kalian Guru”, ternyata hal ini merupakan pengejawantahan dari peran dan fungsi strategis Pemuda Muhammadiyah sebagai ortom.
Eksistensi Pemuda Muhammadiyah sebagai OKP
Berdasarkan ketentuannya, bahwa pemuda adalah mereka yang berumur 18-40 tahun. Tidak diragukan lagi, peran besar Pemuda Muhammadiyah di Kancah lokal maupun nasional. Betapa tidak, seperti dikemukakan di atas bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka Pemuda Muhammadiyah telah eksis menjadi intrumen OKP dan telah berhasil menghimpun dan membina para Pemuda Islam di tanah air. Sehingga, tidak asing rasanya bila banyak kader Pemuda Muhammadiyah yang telah sukses dan berhasil baik dilingkungan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Disamping itu, kader-kader terbaik Pemuda Muhammadiyah banyak yang sukses menjadi pimpinan Partai Politik, baik ditingkat daerah maupun tingkat pusat.

Dalam bidang da’wah sosial dan kemasyarakatan, banyak Dai Pemuda Muhammadiyah yang berkiprah ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Selain bertugas memberi pencerahan, juga telah berhasil membimbing umat agar tetap istiqomah dalam sikap dan perbuatan, utamanya mengenai mana yang haq dan mana yang bathil.  Dalam bidang keilmuan, Pemuda Muhammadiyah telah banyak mendorong para pemudanya untuk menggapai sebuah pendidikan segala tingkatan, baik S1, S2 dan tidak jarang juga kader Pemuda Muhammadiyah berlatar belakang pendidikan Doktor atau S3.   

Dalam bidang kewirausahaan, Pemuda Muhammadiyah telah banyak memberikan pelatihan dan bimbingan tekhnis berwirausaha kepada anggotanya. Sebab, harus disadari bahwa para pemuda sesungguhnya tidak lagi diarahkan pada kegiatan mencari kerja, tapi justru harus memulai usaha sendiri, terlebih dalam hal menjawab tantangan diberlakukannya era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Pemuda kedepan diharapkan merubah mindset dari kebiasaan mencari pekerjaan menjadi berwirausaha (entrepreunership).

Penulis adalah Ketua PDPM Kota Medan

Alumni FH UMSU Stambuk 2003
ditulis pada 11/02/2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemuda Muhammadiyah Medan Gelar Dialog Interaktif

Dalam rangka meningkatkan sinergisitas dan pengawasan terhadap pembangunan di Kota Medan, Pemuda Muhammadiyah Medan menggelar kegiatan Dialog Interaktif dengan thema “Seputar Medan Rumah Kita”. Adapun sebagai narasumber pada kegitan tersebut adalah Ir. Akhyar Nasution, MM Wakil yang juga Wakil Walikota Medan. Sesuai rencana acara tersebut dilaksanakan selesai shalat Jum’at tepatnya tanggal 12 Januari 2018 bertempat di MPCoffe-2 jalan Alfalah Raya Medan. Kegiatan Dialog ini tentunya sangat positif sekali diadakan, selain sebagai sarana ruang berdiskusi juga merupakan rangkaian untuk menyerap dan menyampaikan aspirasi secara langsung oleh warga masyarakat kepada Pemerintah Kota Medan. Secara prinsip Pemuda Muhammadiyah Medan sangat mengapresiasi atas kesediaan Wakil Wakil Walikota Medan yang mau dan berkenan menjadi narasumber pada acara tersebut, karena dengan dibukanya ruang dialog secara langsung seperti ini, sehingga warga masyarakat pun dapat menyampaikan aspirasinya secara l...

SUMPAH PALSU

Lagu Tapsel-Madina Sumpah Palsu karya Eka Putra Zakran

Ada Apa Dengan SIM, Kenapa Jadi Sulit dan Mahal

Sulitnya mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM), baik SIM-C untuk kenderaan roda dua dan SIM-A untuk kenderaan roda empat dan seterusnya saat ini menjadi persoalan tersendiri di Kota Medan. Tidak jelasnya transparansi dan akuntabilatas biaya administrasi pembutan SIM membuat rapot merah, carut-marut birokrasi di internal kepolisian khususnya di Satlantas Polrestabes Medan. Bayangkan betapa masyarakat tidak menjerit, untuk mendapatkan satu kartu atau surat legalitas dari Polisi yang di kenal dengan sebutan SIM itu, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi. Nah, selain biayanya yang mahal, prosesnya pun seolah-olah sulit dan jelimet karena urusannya selalu mutar-mutar sehingga tidak sedikitpun menunjukkan pelayanan prima sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh pemerintah yaitu penyeleggaraan birokrasi pemerintahan yang bersih (Good Cleen Governet). Sangat disayangkan bila “Jargon tinggal jargon dan slogan tinggal slogan”, ketika igin berurusan dengan Satlantas misaln...