Langsung ke konten utama

Krisis Air Bersih dan Mahalnya Tarif Air PDAM Tirtanadi

Persoalan krisis air di Sumatra utara akibat kurang maksimalnya kinerja Dirut PDAM Tirtandi berimbas pada buruknya pelayanan dan kualitas air yang di terima oleh masyarakat pelanggan. Khusus di Kota Medan, krisis air dari tahun ke tahun terus saja berulang seolah macam ada pembiaran, mulai dari persoalan air macet, keruh, bau dan air mati. Bayangkan betapa kecewanya masyarakat melihat buruknya menajemen pelayanan air karena dari tahun ke tahun itu saja masalahnya. Padahal 80 persen lebih pelanggan PDAM Tirtanadi itu dalah warga Kota Medan.
Sangat disayangkan, lambatnya proses penanganan kasus air macet dan mati di beberapa tempat membuat amarah pelanggan hingga sampai ke titik nadir. Bukan hanya kesal tapi juga membikin sebal, ketika hendak mandi air mati, hendak menyuci air mati bahkan yang lebih sakitnya lagi ketika hendak buang air besar (buang hajat) posisi air dalam bak kering, karena terus terang saja berdasarkan fakta-fakta yang terjadi dilapanagn, sering kali air PDAM itu mati lebih dari satu hari (12 jam).
Berdasarkan pengalaman 3 (tiga) pekan terakhir, bahwa khusus di hari minggu air mati sejak sekitar pukul Sembilan pagi hingga sore menjelang waktu shalat magrib bahkan hingga tengah malam. Hal ini tentu sangat memprihatinkan sekali, karena pada siang hari minggu banyak aktivitas warga yang terganggu misalnya ketika orang hendak beribadah ke Gereja (Nasrani), tentu perlu mandi atau ketika hendak shalat Zuhur, Ashar (Muslim) orang juga perlu air untuk  mandi dan berwuduk termasuk ketika orang hendak menghadiri pesta, arisan dan shoping ke Mall dan lain sebagainya.

Selain itu, disamping telah terjadinya krisis air bersih, harga Tarif Air PDAM Tirtanadi 4 (empat) bulan terakhir cukup mahal, hal ini tentu berimplikasi kepada bertambahnya beban hidup rakyat, khusus masyarakat menengah ke bawah, kenaikan tarif air akan menyengsarakan. Kebijakan menaikkan tarif air tersebut selain dianggap tidak populis juga waktunya tidak tepat, sebab sekitar tahun 2013 yang lalu tarif air PDAM juga sudah pernah dinaikkan dengan alasan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, tapi buktinya jauh panggang dari api, pelayanan dan kualitas air masih saja buruk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemuda Muhammadiyah Medan Gelar Dialog Interaktif

Dalam rangka meningkatkan sinergisitas dan pengawasan terhadap pembangunan di Kota Medan, Pemuda Muhammadiyah Medan menggelar kegiatan Dialog Interaktif dengan thema “Seputar Medan Rumah Kita”. Adapun sebagai narasumber pada kegitan tersebut adalah Ir. Akhyar Nasution, MM Wakil yang juga Wakil Walikota Medan. Sesuai rencana acara tersebut dilaksanakan selesai shalat Jum’at tepatnya tanggal 12 Januari 2018 bertempat di MPCoffe-2 jalan Alfalah Raya Medan. Kegiatan Dialog ini tentunya sangat positif sekali diadakan, selain sebagai sarana ruang berdiskusi juga merupakan rangkaian untuk menyerap dan menyampaikan aspirasi secara langsung oleh warga masyarakat kepada Pemerintah Kota Medan. Secara prinsip Pemuda Muhammadiyah Medan sangat mengapresiasi atas kesediaan Wakil Wakil Walikota Medan yang mau dan berkenan menjadi narasumber pada acara tersebut, karena dengan dibukanya ruang dialog secara langsung seperti ini, sehingga warga masyarakat pun dapat menyampaikan aspirasinya secara l...

SUMPAH PALSU

Lagu Tapsel-Madina Sumpah Palsu karya Eka Putra Zakran

Ada Apa Dengan SIM, Kenapa Jadi Sulit dan Mahal

Sulitnya mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM), baik SIM-C untuk kenderaan roda dua dan SIM-A untuk kenderaan roda empat dan seterusnya saat ini menjadi persoalan tersendiri di Kota Medan. Tidak jelasnya transparansi dan akuntabilatas biaya administrasi pembutan SIM membuat rapot merah, carut-marut birokrasi di internal kepolisian khususnya di Satlantas Polrestabes Medan. Bayangkan betapa masyarakat tidak menjerit, untuk mendapatkan satu kartu atau surat legalitas dari Polisi yang di kenal dengan sebutan SIM itu, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi. Nah, selain biayanya yang mahal, prosesnya pun seolah-olah sulit dan jelimet karena urusannya selalu mutar-mutar sehingga tidak sedikitpun menunjukkan pelayanan prima sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh pemerintah yaitu penyeleggaraan birokrasi pemerintahan yang bersih (Good Cleen Governet). Sangat disayangkan bila “Jargon tinggal jargon dan slogan tinggal slogan”, ketika igin berurusan dengan Satlantas misaln...