Langsung ke konten utama

Menggugat Buruknya Pelayanan PDAM Tirtanadi

Air adalah sumber kehidupan, tanpa air manusia takkan mampu untuk menjalani aktivitas kehidupannya, oleh karena itu sumber air dan cadangan air sejatinya harus tetap ada dan tersedia dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi dan menunjang semua aktivitas kehidupan masyarakat, mulai dari sekedar untuk minum, memasak, mandi, menyuci dan lain sebagainya. Artinya bahwa ketersedian dan kecukupan akan pasokan air bersih tidak dapat di tawar-tawar lagi.
Jika melirik kebelakang pada aktivitas kehidupan masyarakat tradisional, misalnya di kampung-kampung atau Desa biasanya terdapat sumur sebagai sumber air utama yang notabene dapat difungsikan kegunaannya untuk bersama baik untuk kebutuhan memasak, mandi dan lain sebagainya. Sudah menjadi kebiasaan bahwa ketika seorang warga membuat sumur, otomatis manfaatnya dapat digunakan oleh anggota masyarakat lainnya, bukan hanya bagi mereka yang berada dilingkungan tersebut akan tapi juga bagi masyarakat lain yang membutuhkan. Selain itu karena air adalah rakmat dan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga kemanfaatannyapun dapat membawa berkah bagi masyarakat dan sekitarnya.
Nah, dalam aktivitas kehidupan masyarakat moderen hal sebagaimana disebutkan di atas tentu akan sedikit berbeda karena semua aktivitas hidup masyarakat sudah di atur sedemikain rupa oleh Pemerintah sesuai bidang tugas dan fungsinya masing-masing, sebut saja misalnya masalah pengelolaan air bersih. Di Sumatera Utara pengelolaan air di tangani oleh Badan Usaha Milik Daera (BUMD) yang terkenal dengan sebutan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi yang notabene perusahaan ini milik pemerintah Provinsi Sumatera Utara, warisan dari penjajah kolonial Belanda.
Banyak warga masyarakat yang menggantungkan nasibnya kepada PDAM Tirtanadi khusunya warga Kota Medan, hampir 80% mereka adalah pelanggan Air PDAM Tirtanadi. Namun demikian tidak jarang masyarakat atau pelanggan mengeluh dengan buruknya pelayanan dan kualitas air yang mereka terima dari perusahaan pelat merah tersebut. Dalam kondisi tertentu acap kali air macet, air jorok, air bau, air bercampur tanah dan air mati lebih dari 12 jam. Hal ini tentu berdampak terhadap aktivitas kehidupan masyarakat, selain berdampak sosial juga berdampak ekonomis bagi masyarakat yang menggantungkan ekonominya di bidang usaha masak-memasak dan lain sebagainya.

Kondisi seperti ini sudah lama berulang, dari tahun ketahun persoalan ini tidak kunjung tuntas seperti tidak ada upaya serius dari Pihak PDAM Tirtanadi untuk mengatasai atau memperbaiki kualitas air dan pelayanan, justru hal itulah yang membuat pelanggan menjadi marah dan kesal kepada Ditut PDAM Tirtanadi. Padahal, jika saja pelayanan dan kualitas air di Sumatera Utara ini bagus tentu akan menjadi sebuah kebanggan dan keberkahan bagi setiap warga masyarakat khusunya pelangga Air PDAM Tirtanadi. Jadi wajar bila masyarakat menggugat buruknya pelayanan PDAM Tirtanadi agar manajemn dapat berbenah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemuda Muhammadiyah Medan Gelar Dialog Interaktif

Dalam rangka meningkatkan sinergisitas dan pengawasan terhadap pembangunan di Kota Medan, Pemuda Muhammadiyah Medan menggelar kegiatan Dialog Interaktif dengan thema “Seputar Medan Rumah Kita”. Adapun sebagai narasumber pada kegitan tersebut adalah Ir. Akhyar Nasution, MM Wakil yang juga Wakil Walikota Medan. Sesuai rencana acara tersebut dilaksanakan selesai shalat Jum’at tepatnya tanggal 12 Januari 2018 bertempat di MPCoffe-2 jalan Alfalah Raya Medan. Kegiatan Dialog ini tentunya sangat positif sekali diadakan, selain sebagai sarana ruang berdiskusi juga merupakan rangkaian untuk menyerap dan menyampaikan aspirasi secara langsung oleh warga masyarakat kepada Pemerintah Kota Medan. Secara prinsip Pemuda Muhammadiyah Medan sangat mengapresiasi atas kesediaan Wakil Wakil Walikota Medan yang mau dan berkenan menjadi narasumber pada acara tersebut, karena dengan dibukanya ruang dialog secara langsung seperti ini, sehingga warga masyarakat pun dapat menyampaikan aspirasinya secara l...

SUMPAH PALSU

Lagu Tapsel-Madina Sumpah Palsu karya Eka Putra Zakran

Ada Apa Dengan SIM, Kenapa Jadi Sulit dan Mahal

Sulitnya mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM), baik SIM-C untuk kenderaan roda dua dan SIM-A untuk kenderaan roda empat dan seterusnya saat ini menjadi persoalan tersendiri di Kota Medan. Tidak jelasnya transparansi dan akuntabilatas biaya administrasi pembutan SIM membuat rapot merah, carut-marut birokrasi di internal kepolisian khususnya di Satlantas Polrestabes Medan. Bayangkan betapa masyarakat tidak menjerit, untuk mendapatkan satu kartu atau surat legalitas dari Polisi yang di kenal dengan sebutan SIM itu, masyarakat harus mengeluarkan biaya yang cukup tinggi. Nah, selain biayanya yang mahal, prosesnya pun seolah-olah sulit dan jelimet karena urusannya selalu mutar-mutar sehingga tidak sedikitpun menunjukkan pelayanan prima sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh pemerintah yaitu penyeleggaraan birokrasi pemerintahan yang bersih (Good Cleen Governet). Sangat disayangkan bila “Jargon tinggal jargon dan slogan tinggal slogan”, ketika igin berurusan dengan Satlantas misaln...