Pimpinan
Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Medan Launching program Kajian Rutin
Ilmiah (Kantin Ilmiah) dengan thema "Politik, Islam dan Demokrasi"menghadirkan
dua narasumber yang berkompeten di bidangnya seperti Al-Ustadz Dr Faisar Ananda
Arfa, MA (Akademisi), Drs. Sahlan Marpaung (Ketua Korda Fokal IMM Sumut) dan
Amnur Dwirsyah Tanjung, SPd MPd bertindak sebagai moderator.
Kegiatan Kantin
Ilmiah diselenggarakan oleh Bidang Dakwah dan
Pengkajian Agama PDPM Kota Medan guna mengintensifkan pengkajian terhadap berbagai
persoalan mulai dari persoalan Politik, Sosial, Hukum, Budaya, Agama dan
termasuk menyikapi suhu politik baik di Medan-Sumatera Utara.
Menurut Hadi Saputra Panggabean sekretaris Bidang Dakwah dan Pengkajian Agama PDPM Kota Medan bahwa sesuai rencana Kantin Ilmiah akan dilaksanakan
minimal sebulan sekali dan maksimal dua kali terhiutung mulai tanggal 20
Januari 2018 sebagai edisi perdana. Acara akan di mulai pada pukul 20.00-23.00
wib bertempat di Aula MPCoffe-2 jalan Alfalah Raya Medan, di hadiri oleh Ketua
PDPM Medan Eka Putra Zakran, Sekretaris Datuk Imam Marzuki, Bendahara Padian
Adi Siregar dan sejumlah pengurus lainnya termasuk perwakilan Pimpinan Cabang
Pemuda Muhammadiyah se Kota Medan.
Selanjutnya adapun maksud dan tujuan dari diadakannya kegiatan
Kantin Ilmiah ini salah sastunya adalah dalam rangka mengintensifkan pengkajian untuk
mewujudkan Pemuda Muhammadiyah yang berkemajuan, cerdas dan berakhlakul karimah,
selain itu juga sebagai sarana untuk membangun silaturahim antara sesama kader,
mulai dari ditingkat daerah hingga ke tingkat cabang sekota Medan.
Dr Faisar Ananda Arfa menyatakan bahwa
Politik Islam Indonesia itu terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Menurutnya
Pancasila adalah hadiah terbesar umat islam kepada bangsa dan Negara Republik
Indonesia, akan tetapi demokrasi jelas bertolak
belakang dengan sistem politik Islam, karena Demokrasi bukanlah prodak politik Islam.
Semenatara itu, Sahlan Marpaung menyebutkan bahwa seperti apapun
kondisi dan carut marut sistem demokrasi di Indonesia,
umat Islam harus ambil bagian dalam setiap ajang politik baik lokal maupun
nasional. Andai saja umat islam bersatu pasti dalam setiap momen ajang politik
umat islam yang memenangkan pertarungan, namun karena urusan perut
sejengkal acap kali umat Islam hanya menjadi penonton.



Komentar
Posting Komentar